.: THIS BLOG IS BUILT AND DEDICATED TO YOUR EYES ONLY :.

Tuesday, January 29, 2013

back to classic movies

"If you see someone without a smile, give him yours" -June Allyson

This part of my life that I called "addicted to classic movies"

PhotobucketApa sih enaknya nonton film klasik? Film sekarang begitu banyak dan beragam, ada yang warnanya begitu nyeni, ada yang sudut pengambilan gambarnya artistik, ada yang efeknya terasa begitu real. Ada yang dibuat begitu canggih. Ini kok malah milih nonton film klasik yang serba apa adanya. Film yang warnanya pun kadang seperti dikrayon, atau malah masih hitam putih, atau film hitam putih yang discreen ulang dengan tambahan warna. Film dengan kamera tunggal yang cenderung statis. Kok betah amat ya?

Yak itu juga pertanyaan saya dulu ama Mbak Ina yang doyan ama film klasik.

Rasanya sudah belasan tahun saya nggak nonton film klasik. Mungkin jaman saya nonton film-film jenis ini adalah jaman TVRI. Film seri Little House on The Prairie, High The Way To Heaven pokoknya jaman tahun 80 an deh. Yah nonton karena terpaksa karna gak punya pilihan. Haha.

Barangkali ini bermula karna saya sedang bosan dengan film-film Hollywood saat ini yang rasa-rasanya udah kehabisan ide. Temanya itu-itu aja. Betul-betul bikin jenuh. Kalo nggak remake film lama, filmnya komedi-romance yang vulgar. Sementara yang lainnya kalo nggak menonjolkan teknologi, film-film yang banyak bermunculan bertema slasher. Satu dua sih nonton masih oke, tapi kebanyakan kok jadi muak. Sepertinya yang psikopat itu bukan tokoh dalam film, tapi produser dan sutradaranya.

Maka iseng-iseng saya pun coba menonton film yang rada jadul : Breakfast At Tiffany’s.

Ya, film ini ceritanya khas hollywood banget. Temanya biasa, barangkali akting Audrey Hepburn yang membuat film ini menarik. Audrey emang natural. Rasanya itu daya tarik film-filmnya. Baru-baru ini saya denger film Breakfast At Tiffany’s ini dimasukan ke dalam National Film Registry oleh US Library of Congress karna dianggap memberikan peranan yang signifikan dalam sejarah budaya dan perfilman Amerika.

Trus saya cari-cari film Audrey yang lain. Dapatlah My Fair Lady dari youtube yang versi HD, ha saya lagi beruntung. Filenya berukuran besar, jadi harus sabar donlotnya. Setelah nonton 2 film tersebut, saya mulai dapat chemistry nonton film jadul. Asik juga ternyata. Memang beda atmosfirnya. Ada sesuatu yang nggak saya dapatin dari film-film sekarang, meskipun film itu bersetting oldis. Entahlah apa namanya.

"Coba nonton Little Women deh, Rang. Bagus banget tuh" Saran Mbak Ina.

PhotobucketOk. Saya searching… you know, internet emang gila. Nyaris segala sesuatu yang berbentuk digital ada di sana. Bahkan film dari tahun 1900an. Meski rada susah akhirnya ketemu. Nyari fim dan lagu akhir-akhir ini memang rada susah karena UU SOFA dan PIPA. Sejak FBI menyeret megaupload.com ke pengadilan, banyak situs hosting file pada mengkeret. Mediafire, Rapidshare, fileupload. Netsonic, dll secara berkala mencari dan mendelete file-file video dan musik yang diduga illegal. Jadi begitu banyak link-link yang almarhum. Sampai-sampai baidu.music tempat donlot lagu bermarkas di china menghentikan layananan donlotnya buat netter beberapa negara termasuk Indonesia.

Tapi tenang, orang gila di internet masih banyak. Makanya saya tetap dapat film klasik Little Women yang legendaris ini…hehehe ketiga-tiganya, tahun 33, 49, 94. Komplit.

Film Little Women diangkat dari novel Louisa May Alcott. Novel ini semacam autobiograpy kehidupan dia ketika remaja bersama tiga saudaranya. Ya seperti Little House In The Prairie-nya Laura Ingalls Wilder, atau semacam Laskar Pelanginya Andrea Hirata. Yah, pokoknya semacam itulah…

Novel ini sudah diangkat ke layar lebar 3 kali. Pertama tahun 1933 yang dibintangi Katherine Hepburn dkk, kedua tahun 1949 yang dibintangi June Allyson dkk, ketiga tahun 1994 dimainkan oleh Wynona Rider. Dari ketiga film tersebut, yang paling catchy di hati saya film tahun 1949. OMG, Saya sampai jatuh hati ama karakter Jo yang diperankan June Allyson. Anjrit gara-gara film ini saya jadi ngefan banget ama June Allyson, dan mencari film-film dia yang lain.

Menurut saya sih June Allyson nggak gitu cantik, namun karakter Josephine yang dia mainkan dengan sophisticated membuat saya sangat kesengsem…haha. Apalagi denger smoky voicenya, betah dah denger dia ngomong apa aja seharian juga. Sumpah, sexy banget suaranya hahaha (padahal kalo dia masih idup sekarang umurnya udah 94 tahun. Udah kayak Rose tua dalam film titanic)

Jujur aja saya suka film-film begini. Film tentang hal-hal sederhana dalam kehidupan, namun bikin hati anget.

Secara keseluruhan saya suka semua karakter dalam film ini, keempat pemain June Allyson, Elizabeth Taylor, Janet Leigh, Margaret O’brien tampil dengan akting yang solid. Memang yang paling menonjol adalah June dan Margaret yang memainkan Jo dan Beth. Margareth O’brien walau saat itu masih remaja namun karakternya sangat kuat. Bahkan June Allyson sampai menangis betulan hingga nggak bisa nyetir pulang ke rumah karena beradu akting dengan Margaret. June begitu tersentuh dengan karakter Beth yang dimainkan Margaret. Coba bayangkan, bisa-bisanya saya sampai baca trivia ini dari imdb.com, watdehek?!

Saya juga baru sadar waktu mainin peran itu, June Allyson umurnya udah 32 tahun. Buset, entah karena berhasil dengan aktingnya, entah karena tampangnya yang imut, saya betul-betul nggak nyangka June Allyson setua itu.

PhotobucketBy the way, diantara ketiga film itu, yang paling kurang greget menurut saya film tahun 94 yang diperankan Wynona Rider. Bingung juga sih, soalnya yang main bintangnya bagus-bagus. Selain Wynona ada Claire Danes, Kirsten Dunst, Samantha Mathis, Trini Alvarado dan Christian Bale. Tapi tetap aja rasanya lain. Kayak nonton film lain bukan film Little Women.

Setelah menonton film demi film. Rasanya saya semakin tergila-gila saja dengan film-film klasik... hahaha…
(Baca Selengkapnya)

Monday, December 31, 2012

tentang kebebasan

"Man is condemned to be free; because once thrown into the world, he is responsible for everything he does. It is up to you to give [life] a meaning." ― Jean-Paul Sartre

Afriyani, sopir xenia maut yang menewaskan 9 orang divonis 19 tahun penjara. 15 tahun karena mengemudikan kendaraan dalam keadaan yang membahayakan orang lain. 4 tahun karena kepemilikan narkoba. Malam itu saya liat beritanya di televisi di tempat tukang bubur langganan saya. Bukan sengaja nonton tivi sebetulnya, tapi kebetulan aja saya lagi beli bubur buat bokap dan nyokap. Pantas tempo hari waktu mau jalan kerja banyak sekali polisi di depan gedung pengadilan jalan gajah mada.

        Ketika vonis 15 tahun dijatuhkan oleh pengadilan tinggi jakarta pusat banyak keluarga korban tidak puas hingga sidang sempat ricuh. “9 nyawa hanya diganjar 15 tahun? Harusnya dimatiin aja” Ujar seseorang yang protes. Terlalu ringan menurut mereka.

        Jika melihat nyawa yang hilang akibat perbuatannya, ya keliatannya tak adil. Tapi apa boleh buat, Afriyani memang bukan sengaja membunuh dan bukan pembunuh berencana. Menurut hakim dia bahkan tidak masuk pembunuh dalam katagori pasal 338 KUHP. Vonis 15 tahun tahun itu bukan dari pasal 338 KUHP lho, tapi dari UU Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

        Anehnya begitu saya baca tuh undang-undang, ternyata sanksi terberatnya hanya pidana 12 tahun penjara. Hakim memberi tambahan 3 tahun dasarnya darimana ya? Mboh. Jika dilihat dari undang-undang ya ini tidak adil buat Afriyani. Tidak fair sebetulnya jika mengambil keputusan karena tekanan publik. (Eh saya bukan ngebela Afriyani ya)

        Memang kalo kita baca undang-undang di Indonesia, kita hanya bisa menarik nafas dan mengurut dada. Sudah hukumannya tergolong ringan ditambah banyak pasal-pasal karet. Pembunuhan dengan sengaja hukuman terberatnya hanya 15 tahun penjara. Itu paling berat lho. Berarti bisa aja pembunuhan itu dihukum hanya 10 tahun, atau 5 tahun, mungkin dengan remisi bisa jadi tinggal 3 tahun saja. Tinggal bagaimana hakim saja.

        Nyawa diganti 15 tahun penjara apa pantas ya? Harusnya nyawa ya balas nyawa. Death sentence or life sentence macam di Amerika sana. Lho kok saya jadi ngelantur ke sana-sana halah…

        Secara pribadi saya menilai Afriyani bukan pembunuh. Itu kecelakaan. Hanya saja yang menyebabkan terjadinya kecelakaan itu prilakunya yang songong : wong lagi ngefly kok nekat nyupir mobil. Kalo pertanyaannya apa kagak ada otaknya ni perempuan? Ya emang saat itu dia lagi kagak ada otaknya. Orang ngefly kok disuruh mikir hehehe…

        "Orang ngefly berat itu kayak orang mimpi" Kata Iman Jaya, temen saya. "Coba lo lagi ngimpi. Ada cewek telanjang di tempat tidur lo. Ya lo garap aja. Emang ada pikiran takut itu dosa? Atau tuh cewek bakal bunting dikemudian hari? Kalo ada pun pasti lo akan abaikan" Lanjut Iman Jaya. "Orang kalo hilang kesadaran, yang ngendaliin otak hanya dua, nafsu dan insting. Pikiran mah udah ditendang nyebur kelaut…"

        "Apalagi ngineks bawaannya berani aja. Orang lagi ngineks, disuruh berantem lawan sepuluh orang juga berani" Iman memang pengalaman dengan yang ini. Hanya saja dia nggak senaas Afriyani yang nyopir dan nabrak orang.

        Temen dari temen saya di Bandung yang pada pulang dari diskotik saban malam, banyak yang sering nyupir sambil mabok. Mungkin mereka beruntung karena pulangnya jam empat pagi, masih belom banyak orang di jalan. Mungkin juga mereka nggak semabok Afriyani. Mungkin juga mereka masih banyak yang doain hingga nggak ketimpa musibah. Mungkin juga waktu mereka normal banyak ngelakuin amal baik. Mungkin juga mereka masih dikasih ditunggu kesempatan tobat ama Sang Pencipta. Entahlah...

19 tahun di penjara.

Dari hidup merdeka, makan enak, minum enak, tidur nyenyak. Hura-hura bareng temen. Party, dugem, joget-joget, mabok hingga pagi. Tiba-tiba dibangunkan kenyataan telah menewaskan 9 orang dengan vonis 19 tahun penjara. Barangkali bagi orang yang percaya numerologi, angka 9 sepertinya telah menjadi angka kutukan buat Afriyani.

        Mungkin Afriyani telah mencubit pahanya sendiri seperih-perihnya. Atau menampar berkali-kali pipinya sendiri. Mencoba bangun, dan berharap ini hanya mimpi.

        Jika umur Afriyani sekarang 29 tahun. 29 tahun ditambah 19 tahun adalah 48 tahun. Habislah masa muda perempuan itu. Mana belom menikah pula. Keluar penjara umur 48 tahun. Can you imagine? No job, no carrier, maybe no money. Ya urusan ekonomi. 48 tahun mau kerja, kerja dimana? Wiraswasta mungkin, atau dia punya banyak kontrakkan. Entahlah

        …and no honey? Di umur 48 tahun apa masih ada lelaki yang mau mempersunting dia? 48 tahun dan bekas narapidana dengan masalalu suram, pemakai narkoba.

        Memang sih jodoh ditangan Tuhan. Siapa tahu di penjara dia nanti bertemu jodohnya. Siapa tau ada lelaki yang simpati dengan keadaannya. Siapa tahu… ah kenapa saya terlalu sok tau meramal masa depan orang. Memangnya saya ini siapa…

        With no less respect to the victims. 19 tahun penjara, secara psikologis adalah hukuman yang luarbiasa berat. Ya saya tau keluarga yang kehilangan anak akan bilang : "Lo nggak tau rasanya kehilangan anak. Coba bayangin, anak yang udah susah payah lo rawat mati ditabrak si gendut itu apa nggak ngenes"

        Ya ngenes. Takut saya ngebayangin anak yang kita sayang-sayang dihajar mobil ngebut. Ngeri saya ngebayangin suara pinggang mereka patah atau kepala mereka pecah. Ngilu banget ngebayangin mereka terhajar aspal dan lumat dilindas roda mobil arrrghhh… Ibunya pasti berjuang untuk mengusir bayangan itu dari kepala mereka.

        Namun kematian siapa dapat lari? Mereka harus direlakan pergi. Yang ditinggal pergi akan hidup dengan rasa kehilangan yang mendalam. Mereka yang menyayangi akan mengingatnya sepanjang hidup. Itu menyakitkan. Bagaimanapun hidup mati udah diputuskan Sang Pencipta. Entah dengan bagaimanapun jalannya. Semoga waktu akan mengobati rasa kehilangan itu.

Tapi bagi Afriyani?

Mungkin tak pernah terpikir oleh Afriyani, bahwa dirinya akan menghabiskan 19 tahun di penjara. Hidup di dalam sel, hanya mampu keluar berjalan-jalan ditempat yang mungkin lebarnya hanya dua kali luas lapangan sepakbola. Tempat yang dipagari tembok tinggi dengan kawat berduri.

        Shit happen.

        Big shit truly happen in her life.

        Dia menangis tersedu-sedu. Barangkali sudah berhari-hari dia menangis. Shock. Mimpi buruk. Terus menerus cemas. Tak enak makan. Gelisah selalu. Tak enak badan. Stress dan entah apalagi. Sejak pagi naas itu hidupnya turn over 180 derajat. Siapa sangka?

        Ada banyak orang mengkonsumsi narkoba. Kenapa hanya dia yang nabrak orang. Tak tanggung-tanggung sembilan orang sekaligus. Kenapa dia yang nyetir xenia itu. Mungkin jika ada mesin waktu dia akan kembali ke malam sebelum kejadian guna menjotosi dirinya sendiri sampai kelenger agar tak pernah ada kejadian itu. Mungkin jika dia bisa lari ke Timbuktu dia akan lari ke Timbuktu. Hidup di sana. Menghabiskan sisa hidupnya, daripada dikurung dalam jeruji penjara.

Allah Maha Bijak, Maha Tahu dan Maha Berkehendak. Dan saya tak hendak menghakimi. Hanya berupaya mencari hikmah dari peristiwa...

Seperti udara. Kebebasan adalah nikmat yang sering manusia lupakan.
(Baca Selengkapnya)

Tuesday, August 21, 2012

grrrrhhhh

what an ordeal…

my laptop hardrive was burned. the prime suspect which made it overheated was stupid fan’s hardrive. it didn’t work properly. or it didn’t work at all.

what is very disturbing when you found your harddrive getting burned? i guess not about buying new one. but, loosing your data. up till now i still thinking about how to get back data from my hardrive. my writing, my novel draft on it. ok i have old backup, but too far old. too much changes i made. and i can’t rewrite it, as you now, that is imposible about picking back every word in our memory. its come once. spill, and gone forever.

i think, its completely damage. even the bios couldnt recognize at all. i’ve tried by winipe, windows live cd. and the result was the same.

almost all recovery software that I know give me nothing.

im not vandalisman. but at that time, i just want to hammer it. why im so stupid. i mean, i didn’t do regulary backup… grhhh…
(Baca Selengkapnya)

Monday, August 1, 2011

belanja...

Beli baju. Beli sepatu. Beli celana. Beli sandal. Semua itu adalah hal yang paling menyebalkan buatku. Membuatku tersiksa dan menderita. Itu sebabnya aku paling malas melakukan hal ini. Keliling-keliling toko. Kegiatan ini kalo dilakukan sering-sering bisa menurunkan berat badan hingga separuhnya, serem kan?! Milih-milih baju, celana, kaos oblong, kaos kaki dan lain sebagainya. Tapi yah apa boleh buat. Penampilanku, kata Kubil akhir-akhir ini udah amat memprihatinkan. Liat sepatu. Udah bulukan gitu. Disemir satu ember pun nggak bakalan naik derajat. Kemeja, celana. Warnanya udah banyak yang kusam.

        Kukira paling tinggal 4 setel pakaianku yang masih lumayan.

        Kalo aku sih nggak peduli. Tapi kasihan temen-temen. Mereka bisa risih kalo jalan ama aku. Dan kantor. Apa kata orang nanti tentang KPP. Kantor bisa turun wibawa pasang pegawai gembel di ruangannya yang mengkilap dan wangi… Jadi kau paham kan? Ini, bukan semata persoalan pribadi. Ini juga bukan sekedar kesadaran sosial. Ini tentang wibawa kantor, terlebih jauh ini menyangkut wibawa negara… Jadi aku tak boleh egois!

        Sesuai dengan tuntutan harmoni yang pernah diajarkan Kubil. Kalo beli celana aku selalu memadankan dengan kemeja. Biar enak dilihat. Emang Kubil itu lumayan juga seleranya.

        Maka harian itu aku habis mengudek-udek toko baju. Ngeborong ceritanya. Beli celana 7 potong. Otomatis atasannya juga, kemeja dan kaus juga harus tujuh. Celana pendek tiga. Trening buat olahraga satu. Sepatu kantor dua pasang. Sepatu olahraga sepasang. Sendal juga dua pasang. Jaket nggak ketinggalan. Kaos dalam. Celana dalam. Saputangan. Handuk. Persis. Persis banget kayak orang habis kemalingan.

        Cukup kau tau, aku sudah lupa tahun kapan terakhir aku belanja. Rasanya sudah berabad-abad silam.

        Ok, ini bagian yang paling pelik! Beli sepatu. Diantara sepatu dengan model yang begitu banyak itu. Mulai dari yang klasik ampe yang mutakhir. Nggak satupun yang menarik hatiku. Jika ada model yang lumayan berkesan, begitu dicoba ukurannya nggak pas. Sepatu itu kau tau, sungguh sialan akar 13 pangkat 1/3 dikali 0.125 dibagi 9 kerjakan dalam waktu 35 detik—mampus koen, bernomer sama tapi jarang yang pas. Semuanya salah. Semuanya norak. Akh atau sebetulnya aku yang norak.

        Barangkale…hehehe…

        Aku mau sepatu warna hitam. Dari kulit bukan sintetis. Nggak berat. Hak alasnya sedang. Nggak kayak mesin giling tapi juga nggak kayak triplek. Nyaman di kaki. Nyaman di hati. Nggak bikin bau biar nggak pernah nyuci kaos kaki. Polos tanpa hiasan, tanpa tali—kecuali sepatu olahraga aku benci sepatu dengan tali, merepotkan dan nggak praktis. Kalo perlu tanpa merk.

        Tentu aja nggak ada kampungan! “Kecuali lo pesen di neraka sana!” mungkin begitu kalo pramuniaganya kutanya.

        Pada akhirnya, seperti Xi Han Wen yang gigih, setelah menanyai adakah sepatu bersayap 9 untuk pergi ke nirwana--*ngaco banget. Dan dilempar keluar dari lantai 5 pagoda Liefeng. Akhirnya pejuang menyerah dan memilih sepatu yang didisplay di rak aja. Ternyata itupun tidaklah mudah. Setelah mengaduk-aduk toko-toko sepatu, dibawah pelototan sang pramuniaga dengan seribu satu syakwasangkanya, akhirnya perjuanganku nggak sia-sia. Yah nggak persis sama dengan yang aku inginkan. Tapi paling nggak aku menemukan yang mendekati. Kubeli dua pasang dengan harapan semoga satu sepatu bisa bertahan minimal dua tahun. Jadi aku bisa lepas dari ‘nightmare lookin 4 shoes’ paling nggak selama empat tahun—watdeheck?!

        Ampun.
        Ampun.
        Cape!

        Biarlah paling nggak untuk satu setengah tahun kedepan aku nggak akan diganggu kegiatan menjengkelkan ini lagi. Satu setengah tahun? Bandingkan dengan Marbud Sasongko yang minimal setiap bulan belanja tiga setel pakaian. Mungkin betapa mengerikannya isi lemariku di mata Mister Marbud Sasongko yah…?

        Aku memang payah dalam hal berbusana. Aku lebih sering beli buku daripada beli baju. Yang walo udah banyak baca nggak pinter-pinter—malah perasaan makin bego aja. Tapi aku nggak kapok-kapok.

        Kalau dihitung pake sipoa, aku punya celana nggak lebih dari sepuluh. Apalagi Kalo dihitung pake metode nyimpleng mungkin hasilnya lebih parah lagi. Dan kemeja—itu udah termasuk batik yang merupakan baju wajib kondangan. Itu udah termasuk pakaian kantor. Jadi Diantara anak-anak kos mungkin lemarikulah yang paling ringkas.

        Begitu beli yang baru. Biasanya yang lama segera kuenyahkan. Biasanya sih kusumbangkan. Eh maksudku kukasihkan ke orang yang mau—malu aku pake istilah menyumbang. Kalo menyumbang kan seharusnya yang terbaik, bukan dengan pakaian yang walo masih layak dipake tapi udah tak diinginkan.

        Untunglah kantorku nggak kayak pemda yang mewajibkan seragam. Andai kantorku seragam. Mungkin bajuku lebih sedikit lagi.

        Kadang aku nggak mengerti kenapa Mr. Marbud Sasongko hobi sekali belanja. Dia itu kalo pilih baju ya ampun. Satu setel baju aja dibanding orang pup tujuh belas kali juga masih kala lama dah. Aku baru nemuin ada cowok scrutin kronis begitu. Selama ini gue merasa Kubil aja udah keterlaluan. Ternyata ada lagi yang lebih parah. Bahkan Jhon Bayu cowok metro versi kos-kosan pun, tewas. Yah begitulah. Orang punya hobi yang aneh. Aku harus memaklumi.

        Ngoceh soal hobi, hobiku sendiri apa yah?

        Rasa-rasanya aku nggak punya hobi yang mengakibatkanku mengoleksi sesuatu. Dulu sih iya, aku sering beli kaset. Tapi itu dah bertahun-tahun lalu nggak. Udah berenti. Lagipula jaman kaset juga udah lewat. Mungkin koleksi buku kali yah. Nggak terasa. Kebiasaan beli buku nyaris membuatku bangkrut. Kalo ditimbang udah berapa ton?

        ….

        "Kamu pura-pura tanyain kek"

        "Apa?"

        "Ini" Kata si lelaki "Ini!" Sambil menarik ujung kemeja. "Buset dah" Seru si lelaki. "Baju baru! kamu tau nggak? Biar seluruh dunia nggak tau. Tapi kamu harus tau!"

        Dia, si perempuan berbando hitam, malah ketawa terkekeh-kekeh. "Freak!" Tukasnya. " Itu pasti nggak akan dicuci seminggu"

        "Biar awet nggak usah dicuci. Diangin-anginin aja kali yah" Tukas si lelaki.

        "Idiiiih" Wajah si perempuan membayangkan sesuatu yang lebih menyeramkan daripada pocong ngesot bunuh diri. “Aku harus siapin masker ama tabung oksigen"

        "Sudah berapa kali ta’ bilang. Supaya asma kamu nggak kambuh, kamu harus makan sate kadal. Nggak perlu pake bawa tabung oksigen"

        Si perempuan menyarangkan tinju bintang selatan ke lengan si lelaki. Si lelaki meringis kesakitan.

        "Lho-lho. Ini juga baru lho…" Tangan si lelaki melesak masuk ke saku celana lalu memunjungkan tangan dari dalam saku. "Juga ini" Dia menghentakkan kaki. Sendal maksudnya. Berharap mahluk di depannya mengerti.

        "Ini juga baru"

        Dia, perempuan itu, menarik jaket katunnya yang berwarna krem terprovokasi. "Baru dicuci" Dia terkekeh sendiri.

        Berdua terpingkal-pingkal. Begitulah ketika kedewasaan tersingkirkan. Setidak-tidaknya itu memberi sebuah jeda pada kepenatan pikiran. Dia lebih suka semuanya mengalir tanpa bisa diterka atau merasa perlu direkayasa.

        "aku tak mau jikalau aku dimadu. pulangkan aku ke rumah orang tuaku…" seorang waria dengan kicrikannya melantunkan lagu dengan suaranya yang ngebas. Sebagai bonus sang waria meliuk-liukan tubuhnya kepada pemilik warung yang memberinya receh.

        "Kamu kalo saya madu. Jangan sampai kayak gitu, yah…" Tukas si lelaki

        Mata indah mahluk di depannya berubah jadi koala…. Klik! Klik! Klik! – abadilah momen itu...(ks'ti)
(Baca Selengkapnya)

Sunday, January 2, 2011

who is erica allbright?

Apa yang dicari orang di internet setelah nonton film Social Network. Oh ternyata sama ama saya : Erica Allbright.

        Hasil gugling bilang : Erica Allbright, she’s real or not?

        Jutaan orang penasaran tentang perempuan yang sepertinya tak pernah bisa dilupakan Mark Zuckerberg ini. Jutaan orang pun gugling bukan untuk mencari tau siapa pemain Erica Allbright yang cakep ini. Tapi orang gugling untuk cari tau : She’s real or not?

        Erica Allbright,
        Dia rill atau cuma bumbu? Diskusi semakin asik saat teman saya percaya kalo sebagian besar kisah pendiri facebook di film itu kemungkinan bener, termasuk tentang Erica--meskipun Mark Zuckerberg bilang yang mirip di film itu hanya tas sangkilnya doang hehehe… * temen saya bilang sah-sah aja sih Zuckerberg bilang begitu, masa dia ngaku seautis itu hehehe *

        Yah film itu memang diadaptasi dari bukunya Ben Mezrich. Sedangkan dalam riset pembuatan novelnya Ben nggak berhasil melibatkan Mark. Mark nggak nanggapin permohonan Ben. Jadi Ben hanya menggali sumber dari orang-orang sekitar Mark Zuckerberg. Semua sudut pandang film ini berasal di luar Mark Zuckerberg. Mungkin kelihatannya timpang. Atau malah jadi objektif karna tidak ada koreksi dari Mark.

        Jadi kisahnya kira-kira “begitu” meskipun ngga persis atau sedramatis itu. Bumbu-bumbu pentinglah. Namanya juga felem hehe…

        Kalo saya nggak salah inget kisah tentang Erica Allbright dibukunya Ben nggak ada *koreksi kalo saya salah soalnya saya baca bukunya melompat-lompat*. Keberadaannya kayak dicut gitu.

        Kalo nyimak dialog antara Erica dan Mark diawal film, pasti semua orang geleng-geleng kepala. Kok ada ya orang macam Mark. Ingin rasanya saya jorogin Mark ke got, atau nimpuk kepalanya, biar nggak terlalu autis.

        Damn! Bukan begitu caranya memperlakukan cewek mark!

        Lebih parah lagi setelah mencerca Erica diblognya, Mark nggak pernah sungguh-sungguh minta maaf.

        Mark Mark Mark, apa susahnya sih minta maaf dengan tulus?

        Susah tentunya bagi Mark, mahluk aneh dengan gengsi setinggi Mount Everest. Nggak pernah dia merasa harus minta maaf atas apa yang dilakukannya… dia bahkan selalu mencari justifikasi tindakannya agar dimaklumi. Siapa nggak kesel coba?

        Kalo kisah ini benar, rasanya ironis banget. Orang yang membangun sebuah jaring sosial terbesar di dunia maya ternyata mahluk yang hampir-hampir antisosial, satu-satunya teman baiknyapun, Eduardo, ia tendang demi mengamankan egonya. Facebook adalah ego Mark, siapapun yang membahayakan facebook, tak perduli teman atau lawan akan ditendang Mark.

        Mungkin jutaan orang harus berterimakasih pada Mark, karna egonya itu facebook berhasil eksis. * Lagi-lagi sebuah ironi *

        Namun yang membuat trenyuh adalah sejenius dan seberapapun kayanya Mark, ternyata tak bisa membuat Erica melirik apalagi kembali padanya. Bagi Erica Allbright, Mark Zuckerberg bukan jenius aneh seperti orang kira. Dia tak lebih dari seorang asshole!

        Ini bukan lagi ironis, tapi tragis, brur! Pendiri facebook yang di add ribuan orang terus menunggu permohonan yang keliatannya tak akan pernah diconfirm oleh seorang usernya. Selamanya…
* nangis deh… kucing disebelah ane *
(Baca Selengkapnya)